Blog Detail

Artikel

DGL Learning Institute Latih 60 Pekebun Morowali Tingkatkan Kualitas Panen dan Pasca Panen

Palu, Sulawesi Tengah - DGL Learning Institute melaksanakan Pelatihan Panen dan Pasca Panen bagi 60 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Morowali. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembanga...

Palu, Sulawesi Tengah - DGL Learning Institute melaksanakan Pelatihan Panen dan Pasca Panen bagi 60 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Morowali. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 yang dilaksanakan melalui kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, dan DGL Learning Institute.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis peserta dalam memahami proses panen yang tepat, menjaga mutu tandan buah segar, mengurangi potensi kehilangan hasil, serta memperbaiki penanganan pasca panen di tingkat kebun.

Direktur Utama PT Daya Guna Lestari, M. Gema Aliza Putra, menyampaikan bahwa panen merupakan titik penting dalam usaha perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan kebun tidak hanya ditentukan oleh proses budidaya, tetapi juga oleh ketepatan dalam melakukan panen dan pasca panen.

“Panen adalah titik penting yang menentukan hasil dan pendapatan pekebun. Jika panen dilakukan dengan benar, mutu TBS akan lebih baik. Jika pasca panen dilakukan dengan tepat, maka nilai ekonomi yang diterima petani juga akan lebih optimal,” ujar Gema.

Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan materi mengenai kriteria matang panen, teknik panen yang benar, pengelolaan brondolan, penanganan tandan buah segar, serta pentingnya kedisiplinan dalam proses pengangkutan dan pasca panen.

Gema menjelaskan bahwa pelatihan panen dan pasca panen menjadi penting karena masih banyak potensi kehilangan hasil yang terjadi akibat praktik panen yang belum tepat. Hal-hal teknis seperti buah mentah terpanen, brondolan tidak terkumpul, keterlambatan pengangkutan, atau penanganan hasil yang kurang baik dapat memengaruhi mutu dan nilai ekonomi hasil panen.

“Panen bukan hanya soal memotong buah. Panen membutuhkan pengetahuan, ketelitian, disiplin, dan pemahaman terhadap standar mutu. Jika proses panen tidak dilakukan dengan baik, potensi kehilangan hasil bisa terjadi dan berdampak pada pendapatan pekebun,” jelasnya.

Dalam rangkaian kegiatan, peserta juga mengikuti praktik dan kunjungan lapangan ke PT Mamuang, bagian dari Astra Agro Lestari. Melalui kegiatan ini, peserta dapat melihat langsung praktik pengelolaan panen, penanganan hasil, serta tata kelola operasional perkebunan yang diterapkan di lapangan.

Menurut Gema, praktik lapangan sangat penting agar peserta dapat membandingkan materi yang diterima di kelas dengan penerapan nyata di kebun. Dengan melihat langsung proses di lapangan, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih kuat mengenai pentingnya disiplin panen dan penanganan hasil yang baik.

“Belajar panen dan pasca panen tidak cukup hanya dari teori. Peserta perlu melihat langsung bagaimana praktik panen yang baik diterapkan di lapangan, bagaimana mutu TBS dijaga, bagaimana brondolan dikelola, dan bagaimana hasil panen ditangani agar tidak menurunkan kualitas,” ungkapnya.

DGL Learning Institute menegaskan komitmennya untuk menjaga kualitas pelaksanaan pelatihan. DGL berupaya menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya bersifat formal, tetapi juga aplikatif, mudah dipahami, dan relevan dengan kebutuhan peserta di lapangan.

“Kami tidak ingin peserta hanya hadir, mendengar, lalu pulang membawa sertifikat. Kami ingin peserta benar-benar mendapatkan ilmu dan mampu menerapkannya di kebun masing-masing,” ujar Gema.

DGL Learning Institute juga memperkuat proses pembelajaran melalui LMS DGL atau Learning Management System. Melalui LMS tersebut, peserta dapat mengakses materi, memperoleh penguatan pembelajaran, serta mengikuti proses monitoring pasca pelatihan.

Menurut Gema, pelatihan tidak boleh berhenti pada saat acara penutupan. Setelah pelatihan selesai, peserta tetap perlu didorong untuk menindaklanjuti ilmu yang telah diperoleh, termasuk melalui monitoring dan kajian kebun.

“DGL akan melakukan monitoring pasca pelatihan melalui akun LMS masing-masing peserta. Monitoring ini bukan hanya administratif, tetapi menjadi bagian dari upaya untuk melihat bagaimana ilmu yang diterima dapat ditindaklanjuti dan diterapkan di lapangan,” jelasnya.

Kajian kebun juga menjadi bagian penting dalam tindak lanjut pelatihan. Setiap kebun memiliki kondisi yang berbeda, baik dari sisi umur tanaman, pola panen, kondisi lahan, produktivitas, maupun persoalan teknis yang dihadapi. Melalui kajian kebun, peserta diharapkan dapat memahami kondisi kebunnya secara lebih baik dan mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

“Dengan adanya kajian kebun, peserta dapat lebih memahami kondisi nyata di lapangan. Dari situ, solusi pengelolaan kebun bisa lebih tepat dan sesuai dengan kebutuhan pekebun,” tambah Gema.

Pelatihan Panen dan Pasca Panen bagi 60 pekebun Morowali ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan keterampilan peserta, terutama dalam menjaga mutu hasil panen, mengurangi kehilangan hasil, dan meningkatkan produktivitas kebun.

Gema berharap para peserta dapat menjadikan pelatihan ini sebagai momentum untuk memperbaiki praktik panen dan pasca panen di kebun masing-masing. Menurutnya, hal-hal teknis yang dilakukan secara disiplin dapat memberikan dampak besar terhadap hasil dan pendapatan pekebun.

“Sering kali peningkatan hasil tidak selalu harus dimulai dari hal yang besar. Kadang dimulai dari hal yang sangat teknis, seperti memperbaiki disiplin panen, mengurangi buah mentah terpanen, memastikan brondolan terkumpul, dan menjaga agar TBS segera ditangani dengan baik,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, dan DGL Learning Institute, Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 diharapkan menjadi bagian dari upaya nasional dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia perkebunan Indonesia.

DGL Learning Institute menilai bahwa penguatan SDM menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan perkebunan yang lebih produktif, tertib, dan berkelanjutan. Dengan pemahaman teknis yang lebih baik, pekebun diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kebun dan memperbaiki kualitas hasil panen.

Tags: